15 Tahun Reformasi, Penyair-Pejuang Widji Thukul ‘ in absentia’

Wiji Thukul


Widji Thukul

Editor by Wilhelmina.
Thue;21 May-2013.

Puisi Widji Thukul Jadi Pengobar Semangat Oposisi Malaysia


” Hanya ada satu kata “Lawan tetap Lawan” Bunyi selarik puisi karya penyair Widji Thukul itu keluar dari bibir Nurul Izzah Sontak massa yang hadir dalam konferensi pers kelompok oposisi Malaysia itu kemarin pun bergemuruh penuh semangat Puisi penyair asal Indonesia yang raib pada masa Orde Baru itu rupanya punya tempat khusus bagi kelompok oposisi Malaysia Karya ini menurut bekas anggota parlemen Malaysia itu diperkenalkan oleh ayahnya Anwar Ibrahim tokoh oposisi”

Itu cuplikan berita oleh akhbar Majalah Tempo yang menarik perhatian ku tadi petang ,selepas jenuh dan bosan dengan berita2 akhbar2 perdana yang pro umno -kerja wartawannya hanya target dapat gaji ujung bulan-tanpa peduli tulisan dan ulasan2 ‘ mereka’ hanya nak memperbodoh2kan minda rakyat Malaysia yang mereka ingat masih ditahap ‘jakun’ macam wartawan2 dan ahli2 umno/bn itu

Kenapa aku lebih suka dan tertarik akan sejarah perjuangan pejuang2 rakyat dari era ’45 Soekarno hingga pejuang2 reformasi era Soeharto

Itu bermula apabila seorang kawan yang kaki buku memperkenalkan aku pada sebuah kedai Buku bernama Pustaka Antara tahun 80an yang berniaga di Jalan Tuanku Abdul Rahman bersebalahan pejabat Umno lama-kini dah di pakai oleh Pejabat Tabung Haji-Pustaka Antara telah raib tak tahu rimbanya sekitar akhir 90an.

di Pustaka Antara inilah aku ratah semua buku2 karya penulis2 terkenal dari Indonesia dari Hamka,Motinggo Busye(novel/cerpen)-Pramoedya Anantha Toer-Arswendo Atmowiloto (novel/cerpen)dan banyak lagi.
Hingga aku berlangganan-kalau tak berlangganan tak kebagian-akhbar2 Kompas-Jawa Pos-Majalah Tempo-Majalah Panji Masyarakat.
Pada zaman itu bagitu susah hendak dapat akhbar/majalah Indonesia ada sedikit sekatan namun buku2 ilmiah-kitab2 pengajian Islam mudah dijumpai.

Apabila era Pustaka Antara gulung tikar -era internet pun muncul di Malaysia-So kecanduan aku akan bacaan buku/majalah atau akhbar Indonesia kembali mekar lagi
 
Tahun berganti tahun membaca dan berlanglang-buana dimerata website dan portal2 berita Indonesia .Akhrnya aku mengenali sosok seorang pejuang reformasi era kejatuhan Soeharto ’98 bernama Widji Thukul -puisi-puisi nya yang bernuansa perjuangan yang bebas dari teory -teory puitis
sangat menarik minat hingga menumbuhkan lagi ilham untuk aku kembali aktif menulis puisi atau cerpen..InsyaAllah kedepan ini akan muncul lagi karya2 aku di persada tanah air.

Biodata Widji Thukul.

Tatkala blog The Poems Of Struggle mula ku lahirkan artikel pertama yang ku tulis adalah tentang sosok Widji Thukul [ baca disini;]
Biodata beliau ini sekedar “refreshing mind”


Widji Thukul Wijaya lahir di Solo 24 Agustus 1963 sebagai anak tukang becak dari keluarga Katholik. Selepas sekolah menengah (setara PMR), selama kurang dari dua tahun dia belajar di sekolah Menengah Karawitan Indonesia, sampai putus sekolah pada 1980.

Di Solo, Thukul dibesarkan di kampung miskin yang sebagian besar penghuninya hidup dari menarik becak. Ketika itu bas kota mulai menguasai jalanan, mengakibatkan penderitaan yang berkepanjangan bagi para tukang becak yang penghasilannya semakin merosot. Rentenir [ semacam -ceti]pun telah menjadi pengunjung tetap yang kedatanganya selalu menggelisahkan para penghuni kampung.

Semenjak putus sekolah, Thukul mencari nafkah sendiri melalui berbagai pekerjaan tidak tetap. Dia pernah menjadi tukang jual akhbar, tukang semir mebel-perabot, maupun buruh harian. Selain itu dia pun membaca puisi secara ngamen keluar masuk kampung, kadang-kadang diiringi musik gamelan.

Keterlibatan Thukul dalam theater dan kesenian di Solo dan Jawa Tengah sangatlah luas. Dia pernah mengambil bagian dalam pembacaan puisi di Monumen Pers Surakarta, Pusat Kesenian Jawa Tengah, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Yayasan Hatta di Yogyakarta serta radio PTPN. Sajak-sajaknya secara teratur muncul diberbagai majalah dan surat kabar, dan pada tahun 1984 kumpulan sajaknya berjudul Puisi Pelo diterbitkan dalam bentuk stensilan oleh Taman Budaya Surakarta. Stensilan berikutnya Darman dan lain-lain telah pula diterbitkan, selain sajak-sajaknya pun muncul dalam Antologi 4 Penyair Solo. Kumpulan puisi Suara diproduksinya sendiri bulan Juli 1987 dalam bentuk fotokopi yang dikomentarinya: ”Aku sedang belajar untuk tidak tergantung pada lembaga-lembaga kesenian resmi.”

Awal 1990-an terlibat dalam Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (JAKKER) yang menjadi anak organisasi Partai Rakyat Demokratik (PRD), parti independen yang didirikan oleh kaum muda dan mahasiswa sebagai partai oposisi regim Orde Baru.

Tahun 1995 Thukul nyaris kehilangan penglihatannya akibat kebrutalan polis saat ia memimpin pemogokan buruh-buruh Pabrik tekstil Sritex. Pasca kerusuhan 27 Juli 1996, di mana PRD-parti rakyat demokratik- dikambinghitamkan sebagai biang kerusuhan oleh pemerintahan Orde Baru, Thukul bersama anggota-anggota sentral PRD harus bersembunyi. Kontak terakhir dengan rakan-rakannya masih terjalin pada 1998. Sejak itu keberadannya tidak diketahui, dan Thukul dikatgeorikan sebagai “orang hilang”, korban-korban penculikan pemerintahan regim militer Orde Baru.

Tahun 2002 Thukul secara‘ in absentia’ menerima Yap Tiam Hien Award atas perjuangannya di bidang penegakan HAM.

*****
https://i2.wp.com/us.images.detik.com/content/2013/05/13/1059/wijidlm.jpg

Jakarta13/05/2013

Penyair Widji Thukul merupakan salah satu tokoh aktivis yang hingga kini hilang di tengah geger-gegeran reformasi pada Mei 1998. Kini, 15 tahun sudah era reformasi bergulir. Namun, Widji tetap tak diketahui kabar pastinya. Untuk mengenangnya, puisi-puisi karyanya pun diterbitkan.

Kumpulan puisi Wiji Thukul itu tidak diterbitkan oleh penerbit komersil. Melainkan, kumpulan yang diberi judul ‘Para Jendral Marah-marah’ itu diterbitkan oleh Majalah Tempo dalam edisi khususnya yang beredar di pasaran mulai awal minggu ini. Tentu saja, ini bukan kumpulan puisi pertama Widji yang diterbitkan. Lalu, apa istimewanya?

Buklet setebal 37 halaman yang merupakan bonus dari Tempo dengan judul sampul ‘Teka-teki Wiji Thukul’ itu memuat 49 buah puisi. Menariknya, sebagian besar dari puisi-puisi tersebut merupakan karya Widji selama dalam pelariannya.

Naskah tersebut awalnya berupa manuskrip yang berada di tangan Wakil Ketua Komisi Nasional- HAM Stanley Adi Prasetyo. “Puisi itu adalah pemberian Wiji Thukul kepadaku sesaat sebelum dia menuju pelarian berikutnya,” ujar Stanley. Dia menerima naskah itu dalam tulisan tangan dengan pensil di atas kertas surat bergaris sebanyak 13 halaman bolak-balik.

Naskah yang berisi 21 puisi itulah yang kemudian menjadi bagian pertama dari buklet ‘Para Jendral Marah-marah’ ini. Secara keseluruhan, buklet ini terdiri dari 3 bagian. Dua bagian lagi masing-masing berisi puisi-puisi Widji dalam bahasa Jawa (12 puisi), dan puisi-puisi ‘lepas’ (16 puisi) yang dihimpun dari berbagai ‘sumber’ dan belum pernah dipublikasikan secara luas.

[Adaptasi Edisi ]

Aku persembahkan dua puisi beliau yang sangat menggugah hati

Catatan 88

saban malam
dendam dipendam
protes diam-diam
dibungkus gurauan
saban malam
menyanyi menyabarkan diri
bau tembakau dan keringat di badan
campur aduk dengan kegelisahan
saban malam
mencoba bertahan menghadapi kebosanan
menegakkan diri dengan harapan-harapan
dan senyum rawan
saban malam
rencana-rencana menumpuk jadi kuburan
(solo-sorogenen, 1 september 1988)

***

Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa

aku bukan artis pembuat berita

tapi aku memang selalu kabar buruk buat
penguasa

puisiku bukan puisi

tapi kata-kata gelap

yang berkeringat dan berdesakan

mencari jalan

ia tak mati-mati

meski bola mataku diganti

ia tak mati-mati

meski bercerai dengan rumah

ditusuk-tusuk sepi

ia tak mati-mati

telah kubayar yang dia minta

umur-tenaga-luka

kata-kata itu selalu menagih

padaku ia selalu berkata

kau masih hidup

aku memang masih utuh

dan kata-kata belum binasa

(Wiji Thukul.18 juni 1997)

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s