Etika Berpolitik.

Jujur itu pilihan (ilustrasi)

By Dr. H. Muhbib Abdul Wahab, M.Ag

Editor by Wilhelmina

Raih Pahala – Sebarkan !

Gendang perang kempen telah diproklamirkan hari ini (3Mac-2013 )-maka pesta hiruk-pikuk dengan semboyan Demokrasi akan bergema di seantero pelosok bandar dan hingga ke kampung-desa di kaki bukit serta lembah di persada tanah air tercinta Malaysia ini -Semoga Allah SWT memberkati usaha -gerak kerja kita dalam mendaulatkan Islam yang didalamnya termaktub -Keadilan – Kebenaran – Kebajikan untuk semua ummat manusia sejagat.

Maka atas dasar dakwah Islam yang kita diwajibkan berpesan-pesan atas kebaikan dan bersama-sama mencegah segala maksiat-kemungkaran – Saya tergugah hati memposting sebuah tulisan bermanfaat karya Dr H Muhbib Abdul Wahab-sempena kita menghadapi PRU-13 menjelang tiba .InsyaAllah.


Dr. H. Muhbib Abdul Wahab, M.Ag


Etika Berpolitik


Setelah dibaiat para sahabat Muhajirin dan Anshar, Abu Bakar Ash-Shiddiq naik mimbar dan menyampaikan pidoto politik. “Wahai para sahabat, aku diangkat menjadi khalifah, padahal aku bukanlah yang terbaik di antara kalian,” ujarnya.

Jika aku berlaku benar, kata Abu Bakar, dukunglah aku. Jika aku menyeleweng, luruskanlah aku. Kejujuran itu adalah amanah, sedangkan kebohongan adalah khianat.
”Orang yang kuat di antara kalian itu menurutku lemah, sebelum aku mengambil haknya bagi yang lemah. Sebaliknya, orang yang lemah itu menurutku kuat sebelum aku memberikan hak dari yang kuat kepada yang lemah,” ujar Abu Bakar.

Beliau  melanjutkan, ”Taatilah aku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika aku tidak mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka jangan taati aku. Laksanakanlah shalat, niscaya Allah akan merahmati kalian.”

Pidato politik tersebut mencerminkan etika berpolitik yang sangat santun, rendah hati, dan terbuka. Sifat rendah hati tawadlu’ sangat diperlukan dalam berpolitik dan memimpin umat.


Pemimpin yang rendah hati pasti akan membuka diri untuk mau dikoreksi dan dikritik. Sebaliknya pemimpin yang sombong dan arogan akan memicingkan mata terhadap pendapat dan kebenaran dari orang lain. 

Pemimpin yang rendah hati akan senantiasa memikul  tanggung jawab kepemimpinannya dengan amanah, jujur, dan menombor-satukan rakyat, bukan partinya serta kroninya.


Kejujuran, menurut Abu Bakar, adalah pangkal tegaknya amanah kepemimpinan politik, sedangkan kebohongan adalah pangkal terjadinya pengkhianatan, penyalahgunaan jawatan, dan ketidak-percayaan rakyat.

Membangun kejujuran dan membasmi kebohongan merupakan tugas utama pemimpin yang memiliki etika politik yang religius seperti Abu Bakar. Amanah kepemimpin adalah juga amanah dari Allah SWT dan Rasul SAW.

Jadi, pemimpin yang amanah adalah pemimpin yang selalu mentaati syariat (ajaran, petunjuk, jalan kebenaran) Allah dan Rasul.
Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin itu akan dimintai pertanggungjawaban atas (amanah) kepemimpinannya.” (HR Muslim).



Pemimpin yang amanah tidak akan pernah menyalahi janjinya kepada rakyat. Pemimpin yang amanah adalah pemimpin yang selalu memperhatikan dan melayani kepentingan rakyat, bukan mengurusi dan melayani kepentingan diri -keluarga -kroni nya.

Ia tidak memihak kepada yang kuat dan kaya, tetapi berusaha adil dan bijaksana dalam mengakomodasi dan mengadvokasi hak-hak mereka, terutama yang lemah dan miskin.


Pemimpin yang amanah menyadari doa kaum lemah dan miskin itu mustajab, sehingga jika kebijakannya menyengsarakan rakyat,i sang pemimpin tidak didukung dan didoakan kekuasaannya segera runtuh.

Pemimpin yang jujur selalu mengajak kepada kebaikan, seperti Shalat; dan selalu berani membanteras  kemungkaran seperti korupsi.
Ini berarti, sebelum menginstruksikan kepada orang lain, dirinya berikut keluarga dan koleganya sendiri harus mampu menjadi teladan yang baik uswah hasanah.

Sejarah membuktikan, Abu Bakar adalah pelopor penegak keadilan sosial ekonomi dengan menumpas kelompok yang anti membayar zakat yang dimotori Musailamah al-Kazdzdab.
Abu Bakar benar-benar membuktikan janjinya: “Aku akan memerangi orang yang memisahkan antara shalat dan zakat.”

 
Santun, rendah hati, jujur, amanah, terbuka, peduli terhadap nasib rakyat yang dipimpin, dan berani menegakkan keadilan itulah etika berpolitik yang seharusnya dimiliki para pemimpin politik kita agar bangsa ini terurus dengan baik, tidak semakin “amburadul” dan rakyatnya semakin menderita.

Etika politik yang religius menuntut pemimpin ‘mewakafkan’ dirinya untuk menjadi pelayan rakyat sejati, bukan ‘berselingkuh’ dengan parti yang mengusungnya, sehingga kinerjanya menjadi tidak fokus dan energinya tersita untuk kepentingan diri -keluarga -kroninya serta partinya.

Allah berfirman: ”Setiap golongan/parti (merasa) bangga dengan apa yang ada pada mereka (masing-masing).” (QS.al-Mu’minun [23]: 53)


Kerana itu, tidak sedikit pemimpin yang lebih menombor-satukan loyalitasnya terhadap parti daripada kepada rakyat yang memilihnya sebagai pemimpin. Sudah saatnya, pemimpin negeri ini hanya mempunyai mono-loyalitas, yaitu: rakyat, bukan parti.
Wallahu a’lam bish-shawab!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s