Episode Berdarah Pencerobohan Tanduo-Lahad Datu Sabah-[Part-17]; “Padjack”atau “Penyerahan”? Punca Konflik.!

( illustration by.philstar.com )

Kuala Lumpur 13Mac-2013 time;5.15pm

Written by Wilhelmina

Sejarah Bermula nya Islam berkembang di Kepulauan Sulu.

Infografik :

Tahun 1380

Karim ul Makdum seorang Ulama keturunan Arab ,memperkenalkan Islam di Kepulauan Sulu
Tahun 1390.
Raja Bagindo perantau dari Minangkabau Sumatera Indonesia melanjutkan penyebaran Islam di wilayah Sulu ini.

Tahun 1450.
Syari’ful Hashem Syed Abu Bakr,seorang Arab dari Johor Malaysia tiba di Sulu lalu menikah dengan Paramisuli,puteri Raja Bagindo

Tahun 1457.
Syari’ful Hashem Syed Abu Bakr,Memproklamirkan berdirinya Kesultanan Sulu,dan memakai gelar
” Paduka Maulana Mahasari Syarif Sultan Hashem Abu Bakr “

Foto:

Tentara Malaysia Berpatroli di Kampung Tanduo (REUTERS/Departemen Pertahanan Malaysia/Handout)

Synopsis pra operasi

Raungan pesawat tempur terdengar di langit Sabah, Malaysia, Selasa 5 Mac 2013. Terdengar suara mendesing sebelum gelegar bom menggegarkan tanah di Kampung  Tanjung Labian, Lahad Datu, Sabah. Kengerian mulai menyergap penduduk setempat.  Di kejauhan, ada suara truk militer menderum melintasi Tanjung Labian menuju Tanduo.
Sekitar setengah jam, Desa Tanduo, 7 kilometer dari Tanjung Labian, diharubiru ledakan bom. Lalu senyap sebentar, sebelum “rat-tat-tat -tat” suara rentetan senapan riuh bersahutan. Rupanya, ratusan tentera  Malaysia menyisir Tanduo yang membentang di pesisir timur Sabah itu. Mereka mencari para militan dari Kesultanan Sulu, Filipina, yang sudah dua minggu  menguasai kampung itu.

Itulah permulaan episod bermulanya operasi asykar2 wira negara Malaysia untuk membebaskan pesisir timur Sabah dari pencerobohan gerombolan bersenjata yang mengaku sebagai Tausug-Warriors  Kesultanan Sulu-Dan saat artikel ini ditulis penulis menerima khabar seorang wira muda negara telah tewas terkorban

* INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJI’UN* ****Al-Fatihah buat wira muda negara, Allyahyarham Ahmad Hurairah Ismail, 24, dari Tujuh Rejimen Askar Melayu Diraja berpangkalan di Tawau yang gugur ketika bertempur dengan pengganas di Sungai Nyamuk, Lahad Datu, 7.45 pagi ini-12Mac-2013)


Muqaddimah,
Pada thread kali ini penulis bukan hendak menulis tentang perkembangan ‘konflik’ yang tengah menggelegak di pesisiran timur Sabah itu-Tetapi penulis hendak bawa Anda pengunjung dan pembaca setia thread ‘kemelut konflik’ ini ke era bemulanya alkisah keIslaman di kepulauan Sulu .
Dimana penulis telah posting thread ‘konflik’ sebanyak 16 siri hingga kini [Baca disini]

Alhamdulillah, sesuatu yang tidak dirancang hanya perancangan Allah SWT itu Maha Bijaksana-Yang mengatur segalanya .

Beberapa hari lepas ada perasaan ‘aneh’ melintas difikiran penulis -“Kenapa aku begitu berambisi penuh semangat menulis dan mencari info tentang ‘kemelut konflik’ ini-Mangapa Ya?
Padahal ‘konflik dan perang’ banyak sekali yang telah tercetus di rantau Asia-Pasifik dan di benua lain-paling2 penulis tulis (2) atau (4) siri dah tutup dan tulis thread lain.

Rupanya inilah jawabannya,! Sesungguhnya sejarah Kesultanan Sulu Lama ini ada garis susur galur dengan darah yang mengalir ditubuh badan penulis yaitu garis keturunan Minangkabau dan Arab sebagaimana tercatit dalam “Kitab Lama Tambo Minangkabau” bahawa keturunan asal etnik Minangkabau ini ada susur-galur dengan Panglima Iskandar Zulkarnaen [ dilain thread penulis akan tulis alkisah tersebut]




Rajah Baginda Shrine

“Padjack”atau “Penyerahan”?

Sekitar tahun 1390, seorang perantau Minangkabau dari Pulau Andalas (kini dipanggil Sumatera) bernama Raja Baginda mendarat di Buansa, yang kini terletak di dekat Jolo[orang Sulu baca dgn Holo], Ibunegeri Provinsi Sulu. Menurut MC Halili, dalam buku “Philippine History” edisi tahun 2004, orang-orang Raja Baginda mudah menaklukkan suku setempat karena memiliki senjata api, sesuatu yang baru di negeri itu. Raja Baginda lalu giat mengIslamkan penduduk, dan menjadi penguasa de facto wilayah itu.

Pada 1450, Syarif Al Hasyim atau lebih dikenal sebagai Sayid Abu Bakar, seorang Ulama Arab, tiba pula di Buansa setelah bertolak dari Johor, Semenanjung Malaysia. Sayid Abu Bakar  lalu menikahi Paramisuli, putri Raja Baginda. Setelah ayah mertuanya meninggal, Sayid Abu Bakar lalu meresmikan pemerintahan Kesultanan yang meniru model kekhalifahan di Arab.
Keturunan Sayid Abu Bakar inilah yang menjadi sultan-sultan Sulu sampai hari ini.

Abu Bakar juga membentuk tentara yang terdiri dari warga Sulu asli yakni Tausug. Dengan gelaran “Paduka Mahasari Maulana al-Sultan Sharif-ul-Hashim”, beliau  merapatkan kekuasaan Kesultanan Sulu, meliputi wilayah maritim. Sulu pun berkembang menjadi kekuatan maritim terbesar di kawasan Laut Sulu.

Kolumnis Rita Linda V. Jimeno, seperti diposting oleh Manila Standard Today, Isnin 18 Februari 2013, menuliskan antara tahun 1473 hingga thn1658, Sabah yang dahulunya dikenal sebagai Borneo Utara adalah wilayah Kesultanan Brunei. Namun pada 1658, Sultan Brunei memberikan wilayah ini kepada Sultan Sulu sebagai balas jasa bagi Sultan Sulu yang membantu meredam perang sivil di Kesultanan Brunei.

Pada 1761, Alexander Dalrymple, seorang pegawai  Bristish East India Company, melakukan perjanjian dengan Sultan Sulu menyewa Sabah sebagai pos perdagangan Inggris. Kesepakatan sewa-menyewa itu termasuk penyediaan tentara oleh Kesultanan Sulu untuk mengusir Spanyol. Sementara pantai barat Borneo Utara (Serawak sekarang) diserahkan oleh Sultan Brunei ke Inggris beberapa tahun kemudian.

Tahun 1878, petualang  Austria bernama Baron de Overbeck yang melihat Kesultanan Sulu sedang kepayahan menghadapi kekuatan kolonial Spanyol membujuk Sultan Sulu menyewakan Borneo Utara yakni Sabah dengan bayaran (yang diistilahkan Sultan Sulu sebagai “Padjack”) per tahun sebesar 5.000 dolar Malaya , atau sekitar 1.600 dolar Amerika Serikat saat itu. Dan Sultan Sulu yang sedang perlu  dana untuk berperang pun menyetujuinya.

Namun, alih-alih memakai sendiri izin “sewa” tanah , Baron de Overbeck menjual kembali “hak” itu kepada seorang pedagang Inggris, Alfred Dent. Dent kemudian mengelola Sabah di bawah bendera British North Borneo Company.



Kerajaan Inggris lalu memberi status “Piagam Kerajaan untuk Sabah.” Tapi kemudian Sepanyol yang menjajah Sulu, dan Belanda yang sedang menjajah sebagian besar Kalimantan memprotes. Kemudian hari, kata Senator Filipina Jovito R. Salonga dalam pidatonya di Senat Filipina pada 30 Maret 1963, Inggris mengklarifikasinya dengan menyatakan “Kedaulatan tetap pada Sultan Sulu” dan perusahaan Dent itu hanya otoriti pengelola.



Namun pada tahun 1885, Inggris, Sepanyol, dan Germany, menandatangani Protokol Madrid yang mengakui kedaulatan Sepanyol di Kepulauan Sulu. Pengakuan ini ditukar dengan pelepasan Spanyol atas segala klaimnya di Borneo Utara atau Sabah untuk mendukung Inggris. Pada 1888, Sabah resmi menjadi protektorat Inggris–yang kemudian menduduki Malaysia sebagai jajahan.


10 July 1946, enam hari setelah kemerdekaan Filipina, British North Borneo Company mengalihkan semua hak dan kewajibannya pada Kerajaan Inggris. Di masa Presiden Filipina Diosdado Macapagal, tahun 1962, sebelum Malaysia terbentuk, Filipina pun mengajukan klaim atas Sabah.
 “Pendirian kita, Overbeck dan Dent, bukan entiti kedaulatan atau mewakili kedaulatan tertentu, tidak bisa dan tidak menguasai atau berdaulat atas Borneo Utara,” kata Salonga dalam pidato bersejarahnya yang diberita- ulang oleh Inquirer Global Nation pada 4 Maret 2013.


Sebenarnya Inggris pun berniat mengembalikan Sabah ke Kesultanan Sulu. Untuk proses itu, dilakukanlah pemungutan suara, menentukan apakah rakyat Sabah memilih bergabung dengan Federasi Malaysia, atau kembali ke Kesultanan Sulu. Hasilnya, rakyat Sabah lebih memilih Malaysia daripada Sulu. 16 September 1963, Sabah bersatu dengan Malaysia, Sarawak, dan Singapura, membentuk  Federasi Malaysia atau Persekutuan Tanah Melayu,
Malaysia merdeka, sewa Sabah dialihkan dari pemerintah Inggris ke Malaysia.

Tahun 1962, Kesultanan Sulu memberikan mandat pada Presiden Filipina Diosdado Macapagal untuk melakukan negosiasi terkait wilayah Sabah yang mereka miliki. Sejak saat itu disepakati, Kuala Lumpur harus membayar sewa tahunan sebesar 5.300 ringgit atau setara 69.700 peso kepada pewaris tahta Kesultanan Sulu.

Juru bicara Kesultanan Sulu, Abraham Idjiran, menyatakan, sampai tahun 2002, Malaysia membayar 73,040.77 peso . kepada Sultan Sulu Jamalul Kiram III.
“Ini adalah cek yang dibayarkan oleh Kedutaan Besar Malaysia di Filipina. Nilainya setara 69.700 peso, untuk wilayah seluas 77.699 kilometer persegi,” kata Idjirani seperti dikutip ABC CBN News, Khamis 21 Februari 2013. “Ini menunjukkan bahwa secara historis dan hukum kami memiliki wilayah itu,” ujar Idjirani.


Namun, jika Sulu menganggap itu uang pajak, Malaysia menganggap itu pembayaran atas penyerahan kedaulatan.
Menteri Luar Negeri Malaysia Datuk Seri Anifah Aman menolak klim pembayaran uang setiap tahun kepada pewaris Sultan Sulu sebagai uang sewa wilayah Sabah. Uang itu dibayarkan untuk penyerahan Sabah.

Menurut Anifah, perjanjian antara Alfred Dent dan Baron von Overbeckn dari the British North Borneo Company dengan Sultan Sulu yang dibuat pada 1878 menyatakan Sultan Sulu menyerahkan wilayah Kalimantan Utara secara permanen.

Beliau  menambahkan, Sabah telah diakui oleh Pertubuhan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai bagian dari Malaysia. Kata Anifah, beliau dan Menteri Luar Negeri Filipina Albert del Rosario bingung mengapa Kesultanan Sulu mengklaim Sabah saat kedua negara tengah menghadapi pilihan raya umum.
Wallahua’lam.


SOURCES

www,philstar.com /Agensi.

Editor by Wilhelmina.

Tag :Raja Bagindo,Syari’ful Hashem Syed Abu Bakr,Tanduo-Lahad Datu,Sabah,Padjack Protokol Madrid,Inggris, Sepanyol,  Germany, Borneo Utara

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s