Episode Berdarah Pencerobohan Tanduo-Lahad Datu Sabah-[6] Korban Berjatuhan Lagi …!

Pihak keselamatan Malaysia yang terkorban ..AlFatihah.!

Kuala Lumpur 3 Mac 2013 – 07.15pm

Editor by Wilhelmina.

Alkisah pencerobohan yang diceritakan penduduk setempat kepada wartawan Jamela Alindogan. yang dapat menyusup masuk secara rahasia.sebab pihak keselamatan Malaysia tidak membenarkan wartawan asing untuk membuat liputan…! Aneh kan???…Kenapa Ya..???

Jamela Alindogan

Jamela Alindogan reporter  from South East Asia.

“Mereka datang di tengah malam aku terbangun dan melihat orang-orang bersenjata senapan  dan mereka dari turun dari bot berenjin  serta membawa  senjata parang  panjang.. Aku belum pernah melihat mereka sebelumnya dalam hidup saya,” kata Ben Ahmid.

Polis Malaysia telah meningkatkan keamanan dalam  menghadapi krisis konflik  [AFP]



Potret kemiskinan di Sabah.


Bersama dengan 35 anggota keluarganya, Ahmid melarikan dari kampung mereka Tanduo dalam keadaan  mengantuk  dengan hanya pakaian sehelai sepinggang,. Dia mengatakan mereka harus meninggalkan segalanya:, rumah tempat berteduh  keluarganya selama puluhan tahun

Sekarang ia mengatakan semua yang dia inginkan adalah kehidupan lamanya bersama  keluarganya.Tapi tak seorang pun tahu bila  itu akan terjadi. Para penceroboh  di Kampung Tanduo mengatakan mereka tidak  ada  rencana untuk meninggalkan.kampung tersebut.

 Mereka menggelar gerombolan mereka sebagai Tentara Kerajaan Sulu, mereka menuntut pengakuan dan hak untuk secara permanen tinggal di Sabah. Ada sekitar 500 orang dari mereka, Mereka katakan adalah pengikut Kesultanan Sulu, yang pernah memerintah Sabah dan Kalimantan Utara.

Sultan Raja Muda Kiram, pemimpin gerombolan, mengatakan ia dan gerombolan nya adalah keturunan para prajurit Tausug Besar (Tausug Warriors) yang gagah  berani yang pernah memerintah Sabah.

Mereka mengatakan  berhasrat  untuk mengembalikan kemuliaan dan kedaulatan yang hilang.dirampas Malaysia.

Tuntutan  untuk merebut kembali Sabah secara rasmi pernah bergema yang dilaungkan  oleh pemerintah Filipina pada tahun 1960 tetapi telah terhenti  sejak. Malaysia sampai sekarang membayar royalti tahunan kepada Kesultanan.Sulu

.Pasukan Malaysia mengatakan mereka telah menyudutkan kelompok gerombolan tsb dan dikenakan tenggang  waktu  untuk kembali ke Filipina secara sukarela.Untuk melihat  situasi kejadian sebenar  seperti di tanah besar  kami pergi ke Lahad Datu. Kami menyewa perahu enjin  kecil dan menuju ke kawasan konflik melalui   pantai.

Ketika kami berjalan  jauh ke arah  timur,Kami  melihat sebuah perahu kecil berlayar paralel menuju arah yang sama seperti kami  Ia bergerak lebih dekat dan sangat laju

Pada saat kami  menyadari itu Angkatan Laut Malaysia (Marin) jadi kami menghentikan perahu segera.“Anda tidak diizinkan untuk berlayar di sini,” kami diberitahu. Dalam beberapa menit, lain kapal patroli Malaysia dengan lapan  tentara tiba. “Tidak perlu bagi Anda untuk datang ke sini, semuanya baik-baik. Ada kedamaian di sini,” kata mereka.

Kami diminta untuk pergi ke balai polis, di mana saya adalah yang pertama untuk diinterogasi.“Kamu  seorang wanita, apa yang kamu lakukan di perahu dengan enam laki-laki? Ini berbahaya!” tanya seorang petugas.

Saya hanya mengatakan kepadanya saya seorang jurnalis, tapi saya diberitahu saya bisa menjadi bagian dari Angkatan Darat Sulu. Interogasi  berlangsung beberapa jam, dan rakan-rakan saya menjadi sasaran siasatan  serupa.

Kesulitan kita adalah bukti yang ada paranoia atas keamanan Sabah. Penduduk Sabah ramai  khawatir mereka mungkin diserang oleh kelompok Sulu Royal Army  bila2  saja. “Mereka di antara kita, mereka sudah berada di sini selama ini,” kata salah seorang

Warga Filipina di sini pernah bicara dengan kami  mereka  mengatakan bahwa mereka sering dipandang dengan penuh kecurigaan. Tapi diskriminasi tersebut adalah sesuatu yang mereka sudah terbiasa selama bertahun-tahun. Kehidupan di Sabah, mereka mengatakan, masih lebih baik daripada apa yang mereka perolehi ditanah air mereka sendiri.

Ada ratusan ribu orang Filipina di Sabah. Kebanyakan dari mereka datang ke sini untuk keluar dari kemiskinan dan militerisasi di Filipina selatan. Tetapi bahkan setelah beberapa generasi tinggal di sini, ramai  dari mereka masih hidup  miskin

Ben Ahmid mengatakan semua yang dia inginkan adalah untuk menjalani hidupnya dalam damai. Seiring dengan sekitar 80 orang lain yang melarikan diri dari kebuntuan, mereka ingin melihat  konflik ini berakhir segera kerana tiada kaitan  serta  tiada hubungannya dengan mereka.

Sumber : Agensi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s