Rahasia Kejayaan Perjuangan Al Ikhwanul Muslimin



https://helmysyamza.files.wordpress.com/2013/01/e51c8-6105_223470377788434_852536848_n.jpg

 Win and Win. Inilah yang dialami Ikhwanul Muslimin, sebuah organisasi sosial keagamaan di Mesir, sejak tumbangnya  Husni Mubarak dari jabatan presiden pada 11 Februari 2011. Hanya kurang dari dua tahun organisasi masyarakat  yang berdiri pada 1928 itu–melalui sayap politiknya, Parti Kebebasan dan Keadilan–telah memenangkan pemilihan Majelis Al Sya’b ( DUN) sebelum kemudian dibubarkan militer, Majelis Syuro (Parlimen), Pilihan Raya  Presiden, dan terakhir juga memenangkan Referendum terhadap konstitusi baru.

President Mesir Muhammad Morsi.

( Logo Al Ikhwanul Musilimin)

Yang terakhir ini,yaitu tentang Referendum  team  perumusnya berjumlah 100 orang. Sebagian besar adalah anggota atau simpatisan dari Ikhwanul Muslimin. Dan, kerana itu, konstitusi baru Mesir ini dinilai banyak pihak–terutama para liberalis, sosialis, dan kaum sekuler–sebagai sangat Islami.

Taktikal kejayaan al Ikhwan ini patut digali dan diteladani oleh para pimpinan.pejuang ,simpatisan  Pakatan Rakyat khususnya Parti Islam PAS .dalam menghadapi ‘taktikal’ Umno/BN yang semakin menggila seperti orang hilang akal .
Mereka tidak peduli itu akan menghancurkan perpaduan bangsa Malaysia hingga sanggup guna isu agama, ras atau suku bahkan Insitusi Beraja.demi kelangsungan kekuasaan hipokrit mereka,.


Sejak kemenangan Ikhwanul Muslimin, untuk selanjutnya ditulis al Ikhwan, para pengamat–baik lokal maupun Barat–pun disibukkan untuk mencari tahu rahasia ” taktikal kejayaan “ bagaimana organisasi masyarakat ( seterusnya disebut NGO) ini, hanya kurang dari dua tahun sudah berhasil mendominasi peta perpolitikan di Mesir. Mereka menyebutnya sebagai “majority yang paling siap” (al aghlabiyah al jahizah).

Ada juga yang menyatakannya sebagai “satu-satunya yang selalu beruntung dan berulang-ulang juara pertama” (daaiman robihan wahiidan wa yatakarroru fauzuhu bil jaaizatil uula(daaiman robihan wahiidan wa yatakarroru fauzuhu bil jaaizatil uula). kunci sukses al Ikhwan adalah lantaran telah lama terzalimi. Lebih dari 80 tahun para tokoh dan pemimpinnya teraniaya.


Namun, di tengah kezaliman dan penganiayaan, baik oleh penjajah asing maupun oleh rejim bangsanya sendiri, pimpiman dan kader-kader al Ikhwan terus bisa bertahan. Bahkan, para pengikutnya bukan berkurang, tapi justru terus bertambah. Bukan hanya di kota-kota, tapi juga di pelosok-pelosok kampung

Para pengamat politik  menyebut kaderisasi (regeneration) model al Ikhwan ini sebagai “Kampus Besar Ikhwanul Muslimin” (al Jami’ah al Kubro lil Ikhwanul Muslimin(al Jami’ah al Kubro lil Ikhwanul Muslimin). loyalitas(loyalty-kesetiaan, ketaatan) dan berdedikasi. Mereka aktif terjun di masyarakat. Membantu mereka yang memerlukan, termasuk dari hal-hal yang kecil.atau yang dipandang sekilas hanya sepele saja,

Kerana  itu, bila suatu waktu berkunjung ke Mesir, Anda jangan heran bila menjumpai anak-anak muda di terminal bas, stesyen  kereta api, dan tempat-tempat umum ada yang menawarkan jasa bantuan . Misalnya, menuntun orang tua untuk menyeberangi jalan, membawakan barang bawaan penumpang, membantu menghadapi kejahatan, cepat mengulurkan tangan ke masyarakat yang kena musibah, serta memberikan bantuan-bantuan sosial lainnya.

Semua mereka lakukan tanpa minta imbuhan atau bayaran  dan tanpa liputan media. Tidak seperti para politikus UMNO/BN yang selalu mengajak wartawan bila ingin memberikan bantuan kepada masyarakat.Dan kini juga sudah menular pulak kepada pimpinan2 Pakatan Rakyat -Semoga tidak jadi ‘habit ‘ kepada para pejuang PR hendaknya.
Sebelum menawarkan bantuan , biasanya mereka (pemuda al Ikhwan )memperkenalkan identiti  terlebih dulu, sehingga masyarakat tidak ragu menerima bantuan mereka..


Kaderisasi seperti ini telah berjalan selama puluhan tahun. Tak mengherankan bila kemudian banyak masyarakat yang simpati kepada aktiviti dan gerakan al Ikhwan. Para kader dan simpatisan inilah yang kemudian membentuk apa yang dinamakan silent majority (al aktsariyah al shomitah(al aktsariyah al shomitah). Majoriti diam inilah yang kelak selalu memenangkan al Ikhwan di pentas politik dan pesta demokrasi di Mesir setelah tumbangnya rejim Husni Mubarak.

Gerakan dan kaderisasi model Kampus Besar Ikhwanul Muslimin tersebut tentu tak terlepas dari sang pendiri dan pimpinan teras al Ikhwan. NGO  ini didirikan Sheikh Hasan al Bana dan koleganya pada 1928, ketika Mesir masih berbentuk kerajaan dan di bawah kendali penjajah Inggris. Meskipun gerakan Islam politik dalam sejarah moden diawali oleh Jamaluddin Al Afghani (1838) dan kemudian oleh Muhammad Abduh (1849–1905), namun dalam bentuk organisasi dan kaderisasi yang lebih terstruktur baru dimulai oleh Sheikh al Bana dengan al Ikhwannya.
Sheikh al Bana terbunuh pada 1949 setelah melawan Raja Farouk yang dituduh telah bekerja sama dengan penjajah Inggris. Sheikh Sayyid Qutub lalu menggantikannya. Setelah Sheikh al Bana, Sayyid Qutub merupakan ideolog al Ikhwan. Ia banyak berceramah dan menulis buku untuk menjabarkan ajaran dan ideologi Ikhwanul Muslimin.

Pada mulanya, Sayyid Qutub bekerja sama dengan Jamal Abdul Nasir ketika melawan penjajahan Inggris. Namun, setelah Mesir merdeka dan Nasir jadi presiden, mereka pun berselisih paham yang berakibat pada pembunuhan Sheikh Qutub (1966) dan pelarangan gerakan al Ikhwan. Nasir ingin menjadikan Mesir sebagai negara sosialis dan paksi  dari pan-Arabisme, sementara Sheikh Qutub menghendaki negara yang berlandaskan Islam.

Larangan terhadap gerakan al Ikhwan ini kemudian terus berlanjut pada masa Presiden Anwar Sadat dan Husni Mubarak. Banyak tokoh Al Ikhwan dikejar-kejar dan dijebloskan dalam penjara. Termasuk Sheikh Muhammad Mursi yang kini terpilih menjadi presiden. Meskipun dilarang, kader-kader al Ikhwan terus bergerak, baik di bawah tanah maupun terang-terangan, bahkan lebih militan.

Ikhwanul Muslimin

Demi perjuangan, mereka kemudian banyak yang berganti “baju”, baik sebagai Lembaga Sosial Masyarakat atau NGO  maupun asosiasi-asosiasi keprofesian. Misalnya, Asosiasi Doktor, Kejuruteraan , Peguam, Wartawan, dan sebagainya. Melalui mimbar asosiasi, media, dan LSM mereka kemudian meneriakkan pentingnya nilai-nilai demokrasi untuk melawan rejim diktator.

Para kader dan simpatisan Al Ikhwan aktif menggerakkan aksi-aksi demo untuk menjatuhkan rejim diktator Husni Mubarak. Bagi al Ikhwan, Islam tidak bertentangan dengan demokrasi. Bahkan, justru di alam demokrasilah nilai-nilai Islam dapat diperjuangkan. Dan, inilah yang dibuktikan oleh al Ikhwan ketika memenangkan pilihan raya demokratik di Mesir.

SUMBER :

Resonansi ROL.com

Rep ; and Editor by Wilhelmina.

One comment

  1. INI LAGI SATU CONTOH KERJA2 FITNAH PENCACAI UMNO :Kempen sayangi Selangor oleh BN Selangor jd meluatkan rakyat Malaysia dgn buat sms hari2 via Celcom ke hp rakyat2 Selangor.!Smlm petang (6/1/13) hp sy terima msg lagi dr org2 kuat BN Selangor ni no hpnya.:0192143423-msg nya :http//malaysiakini.com/news/2018169/Malaysiakini.-Mat Sabu setuju perkataan Allah digunakan dalam BIBLE dan dakwah Kristian kepada Melayu.Saya pun terus buka MKini..belek punya belek tak jumpa pun.dan sy seach Google dgn url yg dia anta tu..takde jgk..Apalagi angin satu badan aku,terus aku telpon.bbrp kali tak jawab.terus tutup..lps tu lepas geram aku smm balas dia:' Hoi mangkok jgn buat fitnah.aku dah bukak Mkini takde pun kalimat tu.!Terus msg xberjawab smpai hari ini.!Begitulah kerja2 KOTOR pemimpin UMNO GOMBAK-dan Selangor amnya.Kerja mereka rasuah,fitnah,Adudomba rakyat.!!! ..HARAM JADAH UMNO/BN SELANGOR!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s