(JOURNAL MOTIVASI) Buruh Kilang Ini Menjadi Wanita Terkaya Di Dunia.

 (FOTO :Zhang Xin (simplified Chinese: 张欣; traditional Chinese)

Written by Wilhelmina

Apakah Hidup Ini Sebuah Pilihan,! Dan Mungkinkah  Anda Berhak & Boleh  Memilih Sebuah Kehidupan Yang Bahagia Dan Dipenuhi Harta Melimpah ?

Kalimat diatas pernah aku baca di beberapa buku motivasi dan buku yang mengisahkan kehidupan orang-orang yang sukses serta kaya -raya.

Namun kalimat motivasi tersebut itu belum lagi membuat aku kaya raya seperti kisah yang pernah aku baca dulu.

Zhang Xin

Walau begitu kita tidak perlu kecewa dan putus asa.sebab dalam Islam ada sebuah Hadis yang lebih kurang bermaksud ” Dunia Ini Bagaikan  Penjara bagi seorang Muslim “

Kita perlu kerja keras untuk menjadi kaya .Namun tidak boleh menghalalkan ‘Cara”.

Maksudnya Kekayaan itu mesti diusahakan secara ‘Halal” tanpa ada unsur ‘Jenayah & Kezaliman ” yang sangat dimurkai Allah SWT.

Ok .Sahabat yang selalu singgah di blog aku ini.Terimaksih atas sokongannya dan kini aku berbagi sebuah kisah seseorang yang sangat memotivasi kita semua.Alhamdulillah.!


Cara untuk menjadi kaya ada 3 cara yang bisa digunakan, dan Anda bisa pilih salah satunya, pertama Anda terlahir dari keluarga kaya sehingga secara otomatik  Anda menjadi orang kaya, atau bila tidak pilihlah cara kedua yaitu nikahi orang kaya hingga Anda bisa ikut jadi kaya, tapi cara kedua ini biasanya memerlukan modal wajah cantik dan hansem , lalu bila kedua cara tersebut tak bisa dan bukan takdir Anda sahabat absoluterevo maka pakailah cara terakhir atau cara ketiga yaitu bekerja keras disertai berpikir cerdas, karena bekerja keras saja tidaklah cukup.

Cara ketiga inilah yang ditempuh oleh Zhang Xin wanita yang kini menjadi salah satu wanita terkaya di dunia asal China, siapa sangka seorang Zhang Xin yang dulunya hanya seorang biasa-biasa tapi kini menjadi orang yang luar biasa, bagaimana kisah selengkapnya mari kita simak bersama.
 
Namanya begitu populer di China. Namun siapa sangka, ratu properti ini masa kecilnya penuh dengan kesengsaraan. Zhang Xin, sang ratu properti, menghabiskan masa kecilnya di tingkat  lima, rumah flat di pinggiran bandar Beijing. Makan nasi ransum dengan mangkuk besi bersama anak-anak pekerja keras China yang lain.

Saat remaja, ia sempat menjadi buruh pabrik atau kilang di Hong Kong. Bekerja 12 jam dengan shift. Saat kerja inilah, sedikit demi sedit, Zhang bisa mengumpulkan uang. Pada usia 20, Zhang telah memiliki uang cukup, dan memutuskan hijrah ke Inggris. Dia mendapatkan bea siswa di Sussex. Kemudian, dia melanjutkan di Cambridge untuk menyelesaikan gelar master.Pada usia 27 tahun, Zhang berhasil menyelesaikan studi master  di bidang Development Economics dari Cambridge University.

Seperti kebanyakan orang Asia yang merantau untuk belajar, setelah bekerja keras dan bersaing untuk belajar, Zhang berhasil mendapatkan pekerjaan di perusahaan internasional Goldman Sachs and Travelers Group, membangun kariernya dalam Investment Banking. Dalam perjalanan kariernya, Zhang telah mewarnai media publikasi bisnis yang terkenal seperti BusinessWeek, Financial Times dan lainnya. Namun yang mengagumkan, Zhang Xin tetap dikenal sebagai seorang pribadi yang low profile di antara perkumpulan perantauan China seberang laut.

Kini, dua dekad setelah dia bekerja keras, Zhang bisa menatap dari tingkat  atas salah satu bangunan paling bergaya dan bergengsi di Beijing. Itulah bangunan miliknya, yang dibangun dari keringatnya sendiri. Zhang pun menjadi salah satu wanita terkaya dunia.



SOHO, The property Company which Zhang Xin founded with her husband

Baru-baru ini majalah Forbes menurunkan profil 10 wanita miliarder dunia yang kekayaannya dari keringat sendiri. Bukan warisan maupun hibah. Salah satunya Zhang, yang memiliki kekayaan  2 billion US$

Zhang Xin memulai kesuksesan dari nol, Anda pun bisa seperti dia

Di bawah bendera SOHO, Zhang berhasil membangun kerajaan bisnis properti bersama suaminya. Dia berhasil mengubah cakrawala dari rumah kongkrit  kotor yang ia tinggali hingga 1970, menjadi gedung yang indah dan futuristik. “Pembangunan ini bertahap dan begitu lama,” kata dia kepada The Sunday Telegraph.“Saya teringat ketika kami sedang berjuang membayar gaji dan kredit. Bagaimana pun perusahaan harus terus bergerak meskipun dengan hutang. Dengan kontrol biaya yang ketat, kami pun secara bertahap bisa mendapat keuntungan.” Meski telah sukses, dia tidak mau mempamerkan kekayaannya.

Penampilannya sangat sederhana. Bila menggunakan make up, tidak begitu ketara. Begitu juga dengan perhiasan, juga tidak berlebih.pakaian sederhana, kegiatan akhir minggu untuk keluarga dan masih bepergian dengan penerbangan kelas bisnis. Tentu hal ini sangat berbeda dengan gaya hidup wanita sukses di negara kita dan di tempat-tempat lain

Ditanya mobil apa yang dia pakai, dia ragu-ragu. Namun akhirnya menjawab. “Oh, itu Lexus. Saya tidak tahu modelnya.” Bahkan dengan triliunan ringgit  kekayaan yang ia punya, Zhang tetap mempertahankan sikap berjimat. Bila menggunakan pesawat, dia akan menolak menggunakan kelas satu. Padahal bagi dia, sangat mudah terbang ke mana pun dengan tiket paling mahal sekali pun.
 

“Ini bukan soal keterjangkauan, ini tentang hati nurani,” katanya. “Kelas bisnis ini sudah cukup nyaman.” Zhang yang sekarang berusia 45, lahir di China. Tumbuh dewasa selama paruh kedua dari Revolusi Kebudayaan (1966-1976). Dia merupakan putri generasi ketiga imigran Tionghoa yang pindah ke Burma dan kembali lagi ke Beijing pada 1950.

Keluarga ini tinggal di sebuah bangunan utilitarian. Ibunya bekerja sebagai penterjemah rasmi membantu menyebarluaskan pernyataan DengXiaoping dan Zhou Enlai. Saat sekolah, setiap siang Zhang pulang untuk makan nasi ransum dari kantin gedung itu.

“Hanya ada tiga jenis makanan, semua cukup buruk,” kenang dia. “Kami masing-masing memegang mangkuk nasi dan dibawa ke kantin. Petugas membagikan makanan dari wadah yang sangat besar,” kata dia sambil menunjuk foto pekerja bangunan  yang sedang mengantre makan di salah satu proyek bangunannya. “Rasanya seperti itu, hanya jauh lebih buruk.”

Saat itu, Zhang mengatakan, Beijing adalah kota muram. “Bangunan-bangunan itu kelabu, semua orang berpakaian abu-abu. Kami tidak pernah melihat langit. Tidak ada gagasan dari langit biru untuk sebuah kemakmuran,” katanya. “Semua orang berpakaian sama, makan sama, perbedaan antara satu orang dengan lain sangat kecil. Mungkin sama seperti perbedaan satu rambut dengan rambut lain di kepala Anda,” ujar Zhang.

Bekerja sebagai buruh pabrik di Hong Kong baginya tidak jauh lebih baik. “Itu mengerikan,” katanya. Setelah “melarikan diri” ke Inggris, pintu Zhang mulai terbuka. Dengan gelar master ekonomi pembangunan di tangannya, ia mendapat pekerjaan pertamanya di Goldman Sachs.

 
Pan Shiyi and his wife, Zhang Xin,

Pada 1994 ia kembali ke China, tergoda seperti ekspatriat lainnya yang terpikat oleh tawaran zone ekonomi khusus dan reformasi ekonomi. Seorang teman menyarankan Zhang memulai bisnis properti. Pan Shiyi namanya. Dia yang datang dari keluarga lebih miskin dari Zhang, memandang masa depan bisnis properti sangat bagus.
 

Empat hari kemudian, Pan mengusulkan semua idea  kepada perempuan itu. Lalu mereka mendirikan SOHO. Bersama Pan yang kemudian menjadi suaminya, Zhang memulai bisnisnya pada 2007. Perusahaan ini sempat kolaps dengan utang US$ 1,65 juta namun kemudian sedikit demi sedikit utangnya bisa direstrukturisasi.

Tentang gaya hidup ini, wanita 45 tahun ini berkata, “Ini bukan tentang kesanggupan, tapi  tentang kesadaran”. Ya, sekalipun Anda telah bekerja keras dan bisa membayar apa pun yang Anda inginkan, tidak berarti menghamburkan uang adalah kewajaran. Semoga rasa nasionalisme Zhang Xin kepada negaranya dan kesadaran Zhang untuk hidup sederhana juga dapat menginspirasi kita untuk hidup lebih baik.


SUMBER :

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s