WIDJI THUKUL Penyair & Pejuang KAUM TERTINDAS

Written and Editor by Wilhelmina

.by wilhelmina TAG:Widji Thukul,Puisi Perjuangan,Soeharto,Buruh-Buruh ,Rakyat marhaen.Puisi Edan.Makin Terang bagi kami.Puisi Bukan Kata Baru

Puisi Perjuangan Kemerdekaan memang sudah didapatkan oleh bangsa kita melalui Perjuangan para Pahlawan kita yang mempertaruhkan Darah, Jiwa dan Raganya untuk bangsa kita, dan saatnya kita mengisi kemerdekaan bangsa ini dengan menghormati para Pahlwan kita yang membuat hidup kita terlepas dari sebuah penjajahan, Terimaksih para para pahlawan kita dikenal dan tidak dikenali yang telah merebut kemerdekaan bangsa ini dari para penjajah, Kita hanya bisa mengisi kemerdekaan ini dalam bentuk sebuah Sajak atau Puisi untuk mengenang jasa-jasamu dan berikut ini adalah Kumpulan Puisi Perjuangan yang akan saya tulis sendiri atau juga dari naskah penyair -penyair Era Orde Lama & Baru hingga Era Reformasi di Nusantara ini.

Puisi Perjuangan.
Untuk thread pertama ini saya ingin menukilkan kisah penyair bernama Widji Thukul yang berjuang untuk membebaskan penindasan dan ketidak-adilan terhadap buruh-buruh dan rakyat marhaen dari  pemerintahan Soeharto dengan menulis puisi yang bebas dari teori-teori puitis.

poster-wijithukul2010

poster-wijithukul2010

Widji Thukul, yang bernama asli Widji Widodo (lahir di kampung Sorogenen Solo, 26 Agustus 1963) adalah seorang sastrawan dan aktivis Indonesia.

Widji Thukul lahir dari keluarga tukang becak. Mulai menulis puisi sejak SD(sekolah rendah), dan tertarik pada dunia teater ketika duduk di bangku SMP(sekolah menengah). Bersama kelompok Teater Jagat, ia pernah ngamen puisi keluar masuk kampung dan kota. Sempat pula menyambung hidupnya dengan berjualan surat kabar, jadi calo tiket pawagam , dan menjadi tukang pelitur di sebuah perusahaan mebel(perabot).
Pendidikan tertinggi Thukul adalah Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Solo jurusan tari sampai kelas dua lantaran kesulitan uang.

Aktiviti perjuangannya.

Kendati hidup sulit, ia aktif menyelenggarakan kegiatan teater dan melukis dengan anak-anak kampung Kalangan, tempat ia dan anak istrinya tinggal. Pada 1994, terjadi aksi petani terjadi di Ngawi, Jawa Timur. Thukul yang memimpin massa dan melakukan orasi ditangkap serta dipukuli militer.

Korban penculikan

Setelah Peristiwa 27 Juli 1996 hingga 1998, sejumlah aktivis ditangkap, diculik dan hilang, termasuk Thukul. Sejumlah orang masih melihatnya di Jakarta pada April 1998. Thukul masuk daftar orang hilang sejak tahun 2000.

Karya

Ada tiga sajak Thukul yang populer dan menjadi sajak wajib dalam aksi-aksi demo- massa, yaitu Peringatan, Sajak Suara, dan Bunga dan Tembok (ketiganya ada dalam antologi “Mencari Tanah Lapang” yang diterbitkan oleh Manus Amici, Belanda, pada 1994. Tapi, sesungguhnya antologi tersebut diterbitkan oleh kerjasama KITLV dan penerbit Hasta Mitra, Jakarta. Nama penerbit fiktif Manus Amici digunakan untuk menghindar dari pelarangan pemerintah Orde Baru.

Di Tengah Kekurangan, Dia Perkasa
Rumah sewaan itu berlantai tanah. Di ruang muka membentang sehelai plastik biru bahan tenda  pedagang kaki lima yang berfungsi sebagai alas duduk. Sebuah mesin jahit berada di tengah ruangan tersebut, alat pencari nafkah mba Pon, isteri Thukul. Kamar mandi berbau tak sedap terletak di luar, tanpa paip air lminum. Bau yang hampir serupa dengan lingkungan kampung berbau busuk yang menguap dari limbah industri. Cuma ada satu kemewahan di rumah tersebut, sebuah ruangan khusus yakni perpustakaan. Di sana terdapat banyak buku mulai dari buku Antonio Gramsci, Bertolt Brecht, Raymond Williams, Marx dan lain-lain. Kebanyakan buku berbahasa Inggris.

Di sanalah Widji Thukul tinggal bersama Sipon isterinya dan dua orang anaknya Nganti Wani dan Fajar Merah. Rumah tersebut juga menjadi tempat berkumpulnya anak-anak kampung untuk belajar menggambar, mengarang, membaca, dan bermain teater. Anak-anak tersebut tergabung dalam Sanggar Suka Banjir. Thukul mengajarkan apa yang tak mereka peroleh di sekolah, yaitu mengekspresikan dengan jujur perasaan serta pengalaman sehari-hari mereka. Semua karya bertumpu pada hal-hal nyata. Bahkan, suatu hari sanggar ini mementaskan lakon tentang banjir dan di akhir pertunjukannya pemain serta penonton beramai-ramai mengunjungi rumah lurah.

Kelompok teater dari luar Indonesia juga pernah berkunjung ke Sanggar Suka Banjir dan membagi pengetahuan baru untuk anak-anak tersebut. Kampung Kalangan yang sempit seakan berubah luas, memberi anak-anak miskin itu kegembiraan.

Thukul juga melatih buruh-buruh pabrik bermain teater. Konsep sebuah teater buruh di Afrika Selatan mengilhaminya. Buruh-buruh memerankan pengusaha, satpam, mandor, supervisor, dan diri mereka sendiri. Buruh yang memerankan majikan berdebat dengan buruh yang memerankan dirinya. Mereka belajar bernegosisasi lewat teater. Selama ini para buruh merasa tak punya kemampuan menjelaskan tuntutan mereka di hadapan pengusaha atau pihak departemen tenaga kerja yang mereka sebut ‘orang-orang pintar’ itu. Kalimat-kalimat mereka selalu dipatahkan dengan kelihaian pengusaha berargumentasi. Tuntutan-tuntutan kesejahteraan mereka tak dipenuhi.

Thukul melatih buruh-buruh berbicara, membangkitkan rasa percaya diri mereka untuk berhadapan langsung dengan pemilik modal yang menentukan upah mereka dalam kehidupan nyata. Latihan ini semacam simulasi. Meski pengusaha punya pembela hukum, buruh-buruh tak perlu gentar. Dengan bersatu, kekuatan mereka akan lebih besar dan didengar. Thukul melakukan pengorganisasian buruh dengan cara mengajak para buruh berjuang untuk memperoleh hak-haknya. Di sinilah Widji Thukul menunjukkan kepiawaiannya mendidik para buruh berjuang memperoleh hak-haknya.

Mungkin banyak dari kita bertanya-tanya, bagaimana seorang Widji Thukul yang hanya mendapatkan pendidikan sekolah sampai kelas dua SMKI, memiliki kemampuan dan keberanian dalam mengorganisir masa untuk melawan. Dari mana ia belajar itu semua?

Walau hanya dapat memperoleh pendidikan formal sampai kelas dua SMKI, namun semangat Widji Thukul tiada pernah padam dalam menggali dan mencari pengetahuan. Sebagaimana pernah diungkapkan oleh Thukul bahwa belajar itu tidak hanya melulu di sekolah atau kampus-kampus. Belajar bisa di mana saja, di perpustakaan, dari orang-orang sekitar atau pun dari pengalaman. Thukul juga banyak belajar mengorganisasi massa dari keterlibatannya dalam teater dan kesenian. Ia pun aktif di PRD dan JAKKER(Jaringan Kerja Kesenian Rakyat), sehingga menambah kepiawaiannya dalam mengorganisasi massa.
Manusia besar selalu lahir dari alam, barangkali lebih tepatnya adalah belajar dari pengalaman. Widji Thukul merupakan sosok yang mudah bergaul dan  mudah belajar serta sangat peka terhadap keadaan sekitar. Karena itulah Thukul menjadi sosok yang sangat diperhitungkan baik oleh kawan maupun lawan. Dari pergaulannya yang luas itulah Wiji Thukul banyak belajar tentang pengetahuan. Ditambah lagi dengan literatur-literatur yang ia baca, membuka matanya hatinya betapa banyak kepincangan  telah terjadi. Hal inilah yang membuat Widji Thukul tergugah untuk mengadakan perlawanan terhadap otoriter sang penguasa.

Prestasi dan penghargaan

Tetapi semua penghargaan diatas tidak sempat diterimanya .kerana beliau hilang tanpa jejak.Dibawah saya posting sebagian puisi-puisi beliau yang membuat bulu-roma meriding ketika membacanya.=>BUNGA DAN TEMBOK

seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak kau kehendaki tumbuh
engkau lebih suka membangun
rumah dan merampas tanah

seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak kau kehendaki adanya
engkau lebih suka membangun
jalan raya dan pagar besi

seumpama bunga
kami adalah bunga yang dirontokkan di bumi kami sendiri

jika kami bunga
engkau adalah tembok
tapi di tubuh tembok itu telah kami sebar biji-biji
suatu saat kami akan tumbuh bersama
dengan keyakinan: engkau harus hancur!
dalam keyakinan kami
di mana pun – tirani harus tumbang!
(Solo, ’87 – ‘88)

Tanpa Judul

kuterima kabar dari kampung
rumahku kalian geledah
buku-bukuku kalian jarah
tapi aku ucapkan banyak terima kasih
karena kalian telah memperkenalkan
sendiri pada anak-anakku
kalian telah mengajar anak-anakku
membentuk makna kata penindasan
sejak dini
ini tak diajarkan di sekolahan
tapi rezim sekarang ini memperkenalkan
kepada semua kita
setiap hari di mana-mana
sambil nenteng-nenteng senapan

kekejaman kalian
adalah bukti pelajaran
yang tidak pernah ditulis Indonesia,

(11 agustus 96)

SAJAK SUARA

sesungguhnya suara itu tak bisa diredam
mulut bisa dibungkam
namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku
suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
di sana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diam
aku siapkan untukmu: pemberontakan!

sesungguhnya suara itu bukan perampok
yang ingin merayah hartamu
ia ingin bicara
mengapa kau kokang senjata
dan gemetar ketika suara-suara itu
menuntut keadilan?
sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
ialah yang mengajari aku bertanya
dan pada akhirnya tidak bisa tidak
engkau harus menjawabnya
apabila engkau tetap bertahan
aku akan memburumu seperti kutukan

PERINGATAN
jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa

kalau rakyat sembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar

bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam

apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!

(Solo, 1986)
ISTIRAHATLAH KATA-KATAistirahatlah kata-kata
jangan menyembur-nyembur
orang-orang bisu

kembalilah ke dalam rahim
segala tangis dan kebusukan
dalam sunyi yang mengiris
tempat orang-orang mengingkari
menahan ucapannya sendiri

tidurlah kata-kata
kita bangkit nanti
menghimpun tuntutan-tuntutan
yang miskin papa dan dihancurkan

nanti kita akan mengucapkan
bersama tindakan
bikin perhitungan

tak bisa lagi ditahan-tahan
(Solo, Sorogenen,
12 Agustus 1988)
SAJAK KEPADA BUNG DADI
ini tanahmu juga
rumah-rumah yang berdesakan
manusia dan nestapa
kampung halaman gadis-gadis muda
buruh-buruh berangkat pagi pulang sore
dengan gaji tak pantas
kampung orang-orang kecil
yang dibikin bingung
oleh surat-surat izin dan kebijaksanaan
dibikin tunduk mengangguk
bungkuk

ini tanah airmu
di sini kita bukan turis

(Solo-Sorogenen
malam Pemilu 87)
BUKAN KATA BARU
Puisi Widji Thukul

ada kata baru kapitalis, baru? Ah tidak, tidak
sudah lama kita dihisap
bukan kata baru, bukan
kita dibayar murah
sudah lama, sudah lama
sudah lama kita saksikan
buruh mogok dia telpon kodim, pangdam
datang senjata sebataliyon
kita dibungkam
tapi tidak, tidak
dia belum hilang kapitalis
dia terus makan
tetes ya tetes tetes keringat kita
dia terus makan

sekarang rasakan kembali jantung
yang gelisah memukul-mukul marah
karena darah dan otak jalan
kapitalis
dia hidup
bahkan berhadap-hadapan
kau aku buruh mereka kapitalis
sama-sama hidup
bertarung
ya, bertarung

sama-sama?
tidak, tidak bisa
kita tidak bisa bersama-sama
sudah lama ya sejak mula
kau aku tahu
berapa harga lengan dan otot kau aku
kau tahu berapa upahmu
kau tahu
jika mesin-mesin berhenti
kau tahu berapa harga tenagamu

mogoklah
maka kau akan melihat
dunia mereka
jembatan ke dunia baru
dunia baru ya dunia baru.
(tebet 9/5/1992
)
MAKIN TERANG BAGI KAMI
Puisi WidjiThukul

tempat pertemuan kami sempit
bola lampu kecil cahaya sedikit
tapi makin terang bagi kami
tangerang – solo – jakarta kawan kami

kami satu : buruh
kami punya tenaga

tempat pertemuan kami sempit
di langit bintang kelap-kelip
tapi makin terang bagi kami
banyak pemogokan di sanasini

tempat pertemuan kami sempit
tapi pikiran ini makin luas
makin terang bagi kami
kegelapan disibak tukar-pikiran

kami satu : buruh
kami punya tenaga

tempat pertemuan kami sempit
tanpa buah cuma kacang dan air putih
tapi makin terang bagi kami
kesadaran kami tumbuh menyirami

kami satu : buruh
kami punya tenaga
jika kami satu hati
kami tahu mesin berhenti
sebab kami adalah nyawa
yang menggerakkannya

(Bandung 21 mei 1992)

E D A N
Puisi Widji Thukul

sudah dengan cerita mursilah?
edan!
dia dituduh maling
karena mengumpulkan serpihan kain
dia sambung-sambung jadi mukena
untuk sembahyang
padahal mukena tak dibawa pulang
padahal mukena dia taroh
di tempat kerja
edan!
sudah diperas
dituduh maling pula

sudah dengan cerita santi?
edan!
karena istirahat gaji dipotong
edan!
karena main kartu
lima kawannya langsung dipecat majikan
padahal tak pakai wang
padahal pas waktu luang
edan!
kita mah bukan sekrup

(Bandung 21 Mei 1992)

TUJUAN KITA SATU IBU

Kutundukkan kepalaku,
bersama rakyatmu yang berkabung
bagimu yang bertahan di hutan
dan terbunuh di gunung
di timur sana

Di hati rakyatmu,
tersebut namamu selalu
di hatiku
aku penyair mendirikan tugu
meneruskan pekik salammu
“a luta continua.”

kita tidak sendirian
kita satu jalan
tujuan kita satu ibu: pembebasan!

Kutundukkan kepalaku
kepada semua kalian para korban
sebab hanya kepadamu kepalaku tunduk
kepada penindas
tak pernah aku membungkuk
aku selalu tegak
(4 Juli 1997 )


Widji Thukul.

Source ;Wikipedia Bebas/Nusantara Centre/Berbagai Sumber.|
Written and Editor by Wilhelmina.




Site Meter

2 comments

  1. Malam ini aku agak beralih angin kepada minat lama yaitu sastra/puisi yg telah lama ku abaikan..Tapi minat itu masih sealiran dgn perjuangan pra PRU-13..Entah kenapa beberapa hari ini..idea dan opini menulis agak lesu saja.Moga dgn menulis puisi ini akan membuat ilham menulis segar kembali.InsyaAllah.!

  2. —namanya akan tumbuh walau raganya tiada. Puisinya dibaca walau kertasnya dibakar. Sebab kami memang kaum tertindas yang tak mungkin menyerah dengan bedil dan senjata lainnya—Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan/ di sana bersemayam kemerdekaan/ apabila engkau memaksa diam/ aku siapkan untukmu: pemberontakan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s