Hukum Hudud (Syariah Islamiyah) di Nanggaroe Aceh Darussalam.?

https://helmysyamza.files.wordpress.com/2011/11/4c0c5-naskahaceh.jpg

Apakah pelaksanaan Hukum Hudud di Negara Petro-Dollar Brunei
Darussalam ada hubungan dengan Hukum Hudud (Syariah Islamiyah) di
Nanggaroe Aceh Darussalam.?

Pertanyaan ini muncul dalam beberapa forum dan persidangan wacana
politik baik di Malaysia dan Indonesia .Dalam perbincangan tersebut
para pembicara dan ahli panel baik yang ada hubungan dengan parti
politik atau pakar ilmuan Islam.

Tetapi amat disayangkan wacana tersebut lebih terarah kepada pembelaan
kepentingan politik sebahagian para peserta dan ahli panel.
(i)Contohnya kenapa Malaysia harus ter-gesa2 hendak melaksanakan Hukum
Hudud ? (ii)Kenapa kita harus mencontohi Negara Brunei yang jelas
majority Melayu dan Islam.?

Akhirnya topik hubungan pelaksanan Hudud di Negara Brunei dan Negeri
Aceh menjadi terpinggir,padahal tajuk ini sangat bermanfaat kepada
pemikir dan pelaksana Undang-undang Hudud ini.baik di Malaysia dan
Indonesia.
Pelaksanaan dan pembahasan Hukum Hudud didua negara ini punya sejarah
dan perjalanan yang penuh rintangan yang sungguh hebat.
Alhamdulillah dengan izin Allah SWT.Negeri Aceh dapat otority penuh
dalam melaksanakan Undang-Undang Syariah Islam dari pemerintah pusat
Indonesia, dibanding Negeri Kelantan diMalaysia ,masih dalam
perjuangan yang panjang.

Tetapi sebelum DYAM Sultan Brunei menitahkan akan melaksanakan segera
Hukum Hudud dinegara nya,Media massa di Indonesia awal tahun ini telah
dikejutkan dengan berita adanya naskah-naskah kuno Islam dari Negeri
Aceh yang disimpan oleh Kerajaan Brunei.
Ratusan naskah kuno Aceh, yang tersimpan rapi di Brunei Darussalam
sekitar lima tahun lalu, menunggu tindakan pemerintah Indonesia untuk
mengambilnya agar menjadi koleksi bagi generasi muda dan masyarakat
yang peduli terhadap peninggalan sejarah langka tersebut

Terkait dengan bencana Tsunami Aceh,

Pengakuan seorang kolektor naskah kuno Aceh, Tarmizi A. Hamid SP, di
Banda Aceh, mengatakan, semua naskah kuno bernilai sejarah tersebut
milik masyarakat yang dibawa saat mengikuti pameran dunia Islam di
Brunei Darussalam sekitar akhir tahun 2004.

“Naskah itu milik saya dan milik masyarakat. Ketika itu kita ikut
pameran dunia Islam. Pameran itu sendiri diikuti dari berbagai negara,
termasuk dari Provinsi Aceh,” kata Tarmizi, yang kini sedang berupaya
mengembalikan ratusan naskah kuno itu ke Aceh.

Menurut Tarmizi, upaya mengembalikan naskah tersebut dapat dilakukan
karena ketika benda bernilai sejarah itu diserahkan bersifat
sementara. Itu terkait dengan bencana alam gempa bumi dan tsunami 26
Desember 2004 yang meluluh-lantakkan Aceh dan menghilangkan ratusan
ribu nyawa masyarakat.

“Sangat dimungkinkan naskah itu kita kembalikan ke Aceh. Saya
mengharapkan dukungan untuk mengembalikan naskah ini segera mungkin ke
Aceh. Saya membantu melakukan hubungan dengan Pemerintah Kerajaan
Brunei Darussalam karena memang saya yang bawa ke sana,” Tarmizi
menjelaskan.

Upaya mengembalikan sekitar 150 naskah kuno Aceh itu penting dilakukan
mengingat ribuan naskah yang tersimpan rapi di Pusat Dokumentasi dan
Informasi Aceh (PDIA) hancur dan hilang ditelan bencana tsunami yang
melanda sebagian wilayah provinsi tersebut.

“Naskah kuno ini menjadi penting artinya bagi masyarakat Aceh karena
tidak sedikit naskah yang tersimpan di PDIA kini sudah dibawa tsunami.
Saya berharap semua naskah kuno Aceh yang sekarang tersimpan di Brunei
Darussalam dapat segera kembali ke daerah ini,” ujar Tarmizi.

Tarmizi mengatakan, berbagai naskah kuno Aceh di Brunei Darussalam itu
boleh dijadikan koleksi berharga bagi generasi muda dan pemerhati
sejarah, karena memiliki nilai Islami dan sangat relevan dan mendukung
pemberlakuan Syariat Islam di Nusantara

Majority naskah kuno tersebut ditulis dalam bahasa Arab melayu dan
sebagian lainnya berbahasa Arab. Pengetahuan dalam naskah kuno itu
juga aneka ragam, termasuk masalah kajian perkembangan masa depan yang
diprediksi penulis naskah tersebut.

Tarmizi menambahkan, tidak sedikit calon2 doktor dari negeri Malaysia
yang melakukan kajian dan penelitian bagi penulisan skrip- disertasi
untuk menyelesaikan program studi Master. Mereka rata-rata datang
untuk mengkaji sekitar 200 naskah kuno yang kini tersimpan dirumahnya.

(Info berbagai sumber)
Written by wilhelmina.
24/november/2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s